Laman

Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

Univ PGRI Palembang Gelar Kuliah Umum Jurnalistik



PALEMBANG, Jurnal Rakyat : Dalam upaya menambah keterampilan menulis sastra dan jurnaslitik, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FkIP) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra (HMPS) Universitas PGRI Palembang menggelar acara bertajuk Kuliah Umum Jurnalistik dan Bulan Bahasa 2013 di Kampus PGRI Jalan A Yani Seberang Ulu Palembang, Sabtu (14/12/2013).

Kegiatan yang berlangsung satu hari ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik H Eddy Salam SH MM, di aula Gedung Perpustakaan Lantai V Universirtas PGRI dihadiri para dekan, dosen dan undangan.

Wakil Rektor dalam sambutannya mengatakan, para mahasiswa FKIP  Universitas PGRI merupakan calon-calon tenaga guru. Selain harus memiliki berkompetisi ke ilmu di bidangnya, juga harus memiliki kemampuan di bidang lain di antaranya adalah kemampuan dalam menghasilkan karya-karya seperti keterampilan menulis yakni menulis sastra dan jurnalistik.

"Dengan adanya kegiatan ini diharapkan nanti akan lahir jurnalis-jurnilis dan penulis sastra," ujarnya.

Ketua Pelaksana M Syukron, mengatakan kegiatan ini selain kuliah umum jurnalistik juga digelar lomba penulisan jurnalistik, Lomba Menulis Cerpen dan Lomba Menulis dan membaca puisi yang diikuti sekitar 300 mahasiswa semester I hingga semestar V.(Sripoku)

Jumat, 13 Desember 2013

Disesalkan TIK Dihapus dari Mata Pelajaran SD



Foto. Net
JAKARTA, Jurnal Rakyat : Tidak diwajibkannya lagi mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi siswa SD, akan membuka lebar bagi anak-anak untuk konsumtif dan tidak produktif memanfaat TIK. Padahal, justru saat ini siswa harus mendapat dorongan positif untuk memanfaatkan TIK. 

Ketua Forum Telematika Kawasan Timur Indonesia (KTI), Hidayat Nahwi Rasul, menyayangkan langkah Kemendikbud, dalam hal ini Disdikbud DKI Jakarta. Menurutnya, tidak diwajibkannya bahasa inggris dan mata pelajaran TIK di SD akan memengaruhi kemampuan daya saing generasi baru  Indonesia. 

Dia mengatakan, kondisi kekinian terkait tenologi informasi sudah sangat berkembang. Hidayat menggambarkan, saat ini pasar  begitu memanjakan konsumen dengan gadget terbaru. Orang-orangpun  semakin banyak yang terhubung dengan internet. ''Saat ini anak-anak kita sudah  menjadi sebuah generasi baru yaitu net generation,'' ujar Hidayat, Jumat (13/12/2013).   

Kondisi saat ini, orang-orang yang bersentuhan dengann internet terus bertambah. Sampai-sampai, kata dia, bayi pun sudah tersentuh dengan gadget dan intensif berinteraksi melalui  internet. Karena itu, disinilah pentingnya keberadaan mapel TIK dan bahasa inggris. Kedua pelajaran tersebut, menurutnya, penting  untuk memberi arah dan mengisi ruang kosong kepribadian anak sebelum diisi dengan nilai-nilai yang tak jelas dan bersumber dari  internet. 

Menurut alumni Komunikasi Unhas ini, justru mapel TIK bukannya dihilangkan, tapi malah diperkaya dengan memperkenalkan  materi internet sehat. Mengajarkan siswa  membuat blog, bagaimana etika di dunia maya, serta pengenalan-pengenalan awal skill aplikasi dan sebagainya. 

Karena internet bagaikan pisau bermata dua, Hidayat menegaskan, maka menjadi kewajiban kita untuk  mengajarkan anak didik bagaimana memanfaatkan pisau untuk kebaikan dan kebenaran,  bukan justeru untuk membunuh.

Dengan terus melonjaknya pengguna internet, hal tersebut berimpplikasi pada banyaknya konten dari berbagai nilai dan pikiran yang berseliweran di dunia maya. Dia menyebut saat ini sekitar tiga miliar pengakses internet. Dan 2014 Indonesia tercatat ada sekitar 100 juta orang. ''Bagaimana berinternet sehat itu harus dikampanyekan,'' tegasnya.

Kurikulum SD Tidak Ada Mata Pelajaran Bahasa Inggris dan TIK

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Kapuskurbuk) Kemendikbud Ramon Mohandas mengatakan, sebenarnya tidak ada istilah penghapusan Bahasa Inggris maupun Teknologi Informasi Komputer (TIK) dalam mata pelajaran Sekolah Dasar (SD).
Istilah penghapusan tersebut harus diluruskan. Sejak dulu, terang Ramon, dalam kurikulum SD tidak ada mata pelajaran bahasa Inggris dan TIK.
"Dalam Kurikulum 2013 juga tidak ada mata pelajaran bahasa Inggris dan TIK, maka tidak ada penghapusan kedua mata pelajaran itu karena memang tidak ada," katanya, di Jakarta, Kamis, (12/12).

Orang tua di Jakarta, ujar Ramon, mungkin kaget saat melihat dalam Kurikulum 2013 tidak ada mata pelajaran bahasa Inggris dan TIK. Lalu mereka mengira keduanya dihapuskan dari kurikulum, padahal memang tidak ada dari dulu.

Bahasa Inggris dan TIK, kata Ramon, merupakan mata pelajaran muatan lokal. Artinya setiap SD boleh memasukkan atau tidak memasukkan bahasa Inggris dan TIK dalam mata pelajarannya.

Muatan lokal itu, ujar Ramon, selain bahasa Inggris, TIK, juga pelajaran seni budaya, dan prakarya. Pada intinya semua SD boleh menambah mata pelajaran muatan lokal namun jangan sampai penambahan muatan lokal mengurangi jam pelajaran yang ada di kurikulum.

"Misalnya saja, SD pulangnya jam 12 siang. Maka mereka bisa menambahkan mata pelajaran bahasa Inggris dengan menambah satu jam mata pelajaran, jadi anak SD pulang jam satu siang karena belajar bahasa Inggris," kata Ramon menerangkan.

Menurut Ramon, masing-masing sekolah bebas menambahkan muatan lokal. "Secara teknis semua diserahkan kepada sekolah," katanya.

Mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), terang Ramon, sama sekali tidak dihapuskan dari mata pelajaran SD. Bahkan Penjaskes dalam kurikulum itu diwajibkan.

"Setiap sekolah harus memasukkan mata pelajaran Penjaskes. Kalau ada SD yang tidak mengajarkan Penjaskes malah salah itu," ujar Ramon.

Penjaskes, lanjut Ramon, dari dulu sudah ada dalam struktur kurikulum. Pada Kurikulum 2013 juga tetap ada, tidak ada perubahan.

"Bahkan Penjaskes, kalau ada SD yang ingin menambahkan jumlah jamnya tidak masalah. Penjaskes itu juga tergantung fasilitas olah raga masing-masing sekolah "ujar Ramon.

Terkait bahasa Inggris tidak terdapat dalam kurikulum SD, Ramon menerangkan, kalau bahasa Inggris dimasukkan dalam kurikulum berarti wajib diajarkan di setiap SD. Padahal tidak semua daerah memiliki sarana pendukung untuk diberikan pelajaran bahasa Inggris.

Misalnya, ujar Ramon, di daerah pelosok, tenaga pengajar bahasa Inggris belum ada. Nanti kalau dipaksakan masuk dalam kurikulum malah diajarkan oleh orang yang tidak memiliki kapasitas mengajarkannya.

"Kalau anak-anak diajar oleh orang yang tidak paham isi materinya nanti malah rusak. Makanya lebih baik bahasa Inggris tidak dipaksakan masuk kurikulum," kata Ramon.

Kalau sekolah-sekolah di kota, ujar Ramon, memang banyak yang mengajarkan bahasa Inggris. Sebab guru yang tersedia juga banyak dan memadai.(Republika.co.id)

Sabtu, 30 November 2013

Tim FH Unsri Juara Kompetisi Debat Mahasiswa



PALEMBANG, Jurnal Rakyat : Dua tim dari Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (FH Unsri), mengungguli peserta lain dalam adu argumentasi kompetisi debat yang diselenggarakan Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) Sumatera Selatan.

Sementara tim dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA), menjadi juara ketiga pada kompetisi antar mahasiswa yang diselenggarakan  hari Sabtu (30/11/2013), di Gedung Pengadilan Negeri Palembang.

Kompetisi Debat Mahasiswa antar-Perguruan Tinggi se-Sumsel ini diikuti delapan tim dari berbagai perguruan tinggi (PT) di Palembang. Materi yang ditentukan panitia penyelenggara seputaran penegakan hukum. Diantara tema yang ditawarkan, antara lain wacana hukuman mati bagi koruptor.
Acara ini merupakan rangkaian kegiatan ulang tahun Peradi Sumsel ke-9, juga beradu argumentasi menyikapi pro dan kontra atas pemberian grasi (pengampunan hukuman) dari presiden.

Masing-masing tim pemenang: Juara I, Yuri Alfha Fawnia, Firiyani dan Isma (mahasiswa semester V FH Unsri). Juara kedua mahasiswa semester III FH Unsri, yang terdiri dari Imam Akbar, Kartika Aprilia dan Reza Aidil Fitriyansyah. Masing-masing tim pemenang memperoleh hadiah selain piala dan sertifikat, serta hadih uang Rp 3 juta dan juara kedua Rp 2 juta.

Sementara juara ketiga mahasiswa STIHPADA terdiri dari Doddy Satriadi, Romalia dan Dodi Irawan. Mereka memperoleh hadiah uang Rp 1 juta.

Peradi merupakan salah satu organisasi advokat, selain Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia) dan KAI (Kongres Advokat Indonesia).

Menurut Andre, panitia penyelenggara debat, acara ini akan menjadi agenda rutin Peradi Sumsel. Diharapkan, debat ini akan melahirkan tokoh-tokoh mahasiswa yang mampu berargumentasi persoalan hukum, serta persoalan-persoalan sosial di dalam masyarakat.

"Mahasiswa hukum, bukan hanya mampu berargumentasi disiplin ilmu yang dipelajarinya. Tetapi mampu melihat persoalan kebijakan pemerintahan dan menghargai perbedaan pendapat," kata Andre pada acara pembukaan debat.(Sripoku.com)

Rabu, 30 Oktober 2013

Univ PGRI Targetkan 3 Bulan Selesaikan Berkas Akreditasi



PALEMBANG, Jurnal Rakyat : Menjelang batas akhir penyerahan berkas akreditasi institusi yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada April 2014 mendatang, Universitas PGRI Palembang berupaya untuk memenuhinya.
Pihak Universitas PGRI Palembang bahkan, menargetkan proses pemberkasan akan diselesaikan dalam tiga bulan sehingga pada Januari 2014 mendatang sudah diusulkan ke BAN-PT.

Pembantu Rektor I Universitas PGRI Palembang H Eddy Salam SH MM, Selasa (29/10/2013) mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke semua struktur di lingkungannya untuk melengkapi semua berkas yang dibutuhkan. Prosesnya sendiri diakuinya lebih banyak dibanding akreditasi program studi (Prodi) seperti biasanya.

"Jika untuk akreditasi prodi biasanya kita hanya menyerahkan 34 dokumen dalam usulan, tetapi untuk akreditasi institusi ini dibutuhkan 57 dokumen yang kita butuhkan," katanya ketika ditemui pada pelatihan penyusunan Langkah Kerja Baku (LKB) di Aula Sriwijaya Universitas PGRI Palembang.

Namun, menurutnya target tiga bulan tersebut sangat masuk akal mengingat saat ini kinerja pengelola Universitas PGRI sudah cukup baik. Untuk itu, pihaknya sering membekali mahasiswa, dosen, dan pengelola dengan kegiatan berbentuk pelatihan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di kampusnya.

Ketua panitia Syaiful Eddy MSi mengatakan tujuan dilaksanakannya pelatihan ini bertujuan untuk memberikan acuan untuk seluruh satuan biro dan Unit Pelayanan Teknis (UPT) di lingkungan Universitas PGRI Palembang. Menurutnya, dalam penyusunan LKB harus berpedoman pada ketentuan yang sudah ditetapkan.

"LKB ini bersifat dinamis dan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknis masing-masing unit kerja di lingkungan Universitas PGRI Palembang. Semoga melalui pelatihan ini, proses administrasi dapat berjalan baik dan lancar yang akan mendorong proses akreditasi institusi," ungkapnya.

Pelatihan ini diikuti 40 pengelola di lingkungan Universitas PGRI Palembang yang berasal dari Biro Akademik, Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian, Bidang Kemahasiswaan, dan UPT. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari pada 29-31 Oktober yang materinya akan disampaikan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Universitas PGRI Palembang.(Sripoku.com)

Senin, 23 Juli 2012

UPTP Tuah Negeri Tingkatkan Pembinaan ke Sekolah


Bachori
MUSI RAWAS, Jurnal Rakyat : Dalam pelaksanaan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tahun ajaran 2012/2013, Unit Pelaksana Teknis Pendidikan (UPTP) Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan tingkatkan pembinaan ke sekolah-sekolah.
Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Tuah Negeri, Bachori, saat dibincangi Jurnal Rakyat, Senin (23/7), Pembinaan yang dilakukan itu sendiri dalam bentuk, salah satunya UPT Pendidikan Kecamatan Tuah Negeri melakukan pendataan terhadap siswa ke setiap sekolah-sekolah. Sedangkan kegiatan lainnya adalah masalah disiplin, baik terhadap kepala sekolah maupun dewan guru.
Selanjutnya, peningkatan kualitas pendidikan, dilakukan pembinaan dalam proses belajar mengajar dan juga administrasi sekolah, yakni administrasi keuangan, kesiswaan dan kepegawaiannya.
Untuk mewujudkan program wajib belajar, di tahun ajaran 2012-2013 ini, kita terus melakukan pembinaan dan turun langsung ke sekolah-sekolah,”katanya.
Dengan turun langsung ke sekolah, tambahnya, untuk melakukan pembinaan baik untuk peningkatan kualitas maupun administrasi sekolah.
Dengan kegiatan ini, kita dapat mengetahui secara langsung setiap permasalahan-permasalahan yang ada di sekolah dan dengan cepat dilakukan pembenahan,”jelasnya.
Untuk diketahui, saat ini di wilayah Kecamatan Tuah Negeri terdapat sebanyak 2 TK/RA, 22 SD/MI, 7 SMP/MTs dan 2 SMA/MA.(Biroe)

Selasa, 17 Juli 2012

Peran Orang Tua Sangat Penting Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan



Bachori
MUSI RAWAS, Jurnal Rakyat : Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, orang tua murid memegang peranan penting karena para murid waktunya lebih banyak di rumah dibandingkan di sekolah. Salah satu kendala bagi sekolah dalam mendidik dan melatih muridnya adalah masih banyaknya anggapan orang tua murid, bahwa mendidik anak-anak mereka merupakan tanggung jawab sekolah.

Demikian diungkapkan Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pendidikan, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Bahori, saat dibincangi Jurnal Rakyat, Selasa (17/7/2012).

Menurutnya, pada umumnya pendidikan yang diajarkan di sekolah tidak sesuai dengan yang dibiasakan orang tua di rumah.

“Siswa diberikan pekerjaan rumah, tapi sangat sedikit orang tua yang memantau anak-anaknya selama mengerjakan tugas-tugas sekolahnya,”katanya.

Sebagai contoh, kata dia, murid kelas 1 SD atau TK sewaktu di sekolah diajarkan gurunya tata cara makan yang baik, namun saat di rumah anak didik masih disuapin.

“Sekolah juga sudah menjelaskan agar murid dapat menghindari menonton TV, tapi dirumah dibiarkan, serta sangat jarang orang tua mendampingi anak-anaknya saat menonton TV,”ujarnya.

Oleh sebab itu, tambanya, dialog dan kerjasama antara orang tua dan pihak sekolah sangat diperlukan. Namun sayangnya, sedikit sekali orang tua murid yang mau datang kesekolah saat diundang.

“Apalagi saat ini dengan diterapkan sekolah gratis, orang tua murid beranggapan jika ada undangan dari sekolah pasti akan membicarakan masalah dana,”jelasnya.

Bahori  berharap, agar orang tua murid lebih peduli terhadap pendidikan anaknya dan tidak merasa sungkan untuk bertanya kepihak sekolah apabila menemui kendala dalam mendidik anak dirumah.(Biroe)

Rabu, 11 Juli 2012

160 Peserta Lulus Tes PSB SMAN 1 Muara Beliti


Yas Budaya
MUSI RAWAS, Jurnal Rakyat : Sebanyak 160 peserta yang lulus tes penerimaan siswa baru (PSB) dari 164 peserta pendaftar di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.
Demikian dikatakan Kepala SMAN 1 Muara Beliti, Yas Budaya saat dibincangi Jurnal Rakyat, Rabu (11/7/2012).
Menurutnya, empat peserta tes yang tidak lulus tes itu dikarenakan keempatnya tidak mengikuti proses ujian tes PSB yang digelar pada 4 Juli 2012 lalu.
“Saat ini kita sedang proses tahapan pendaftaran ulang bagi calonsiswa yang telah lulus tes. Proses pendaftaran ulang sendiri dilakukan sejak tanggal 7 – 14 Juli 2012,”katanya.
Pada proses pendaftaran, kata dia, pihaknya tidak memungut biaya sepeser pun, karena sudah diinstruksikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Mura, agar proses PSB dilakukan dengan gratis.
“Calon siswa yang mendaftar di SMAN 1 Muara Beliti ini, rata-rata alumni dari SMPN Muara Beliti, SMPN Muara Kati dan SMPN Pedang,”ujarnya.
Dari 160 calon siswa itu, menurut Yas, pihak sekolah menyiapkan lokal sebanyak lima kelas, karena saat ini di SMAN 1 Muara Beliti memiliki 12 ruang kelas.
“12 ruang kelas itu, saat ini siswa kelas XI sebanyak tiga kelas, siswa kelas XII sebanyak empat kelas. Jadi sisanya lima ruang kelas dipersiapkan untuk siswa kelas X atau siswa baru,”tuturnya.
Untuk kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), menurut Yas, di SMAN 1 Muara Beliti akan dilaksanakan selama tiga hari, yakni dimulai dari tanggal 16-18 Juli 2012 mendatang.
“Materi MOS sendiri, kita arahkan lebih kepada pengenalan lingkungan sekolah, seperti pengenalan ruangan belajar, kakak kelas dan dewan guru. Dengan demikiandiharapkan dapat mempererat talih silaturahim antar warga sekolah sehingga dapat terwujudnya kenyamanan dalam proses belajar mengajar,”pungkasnya.(Biroe)

Senin, 25 Juni 2012

Satgas Wajar Harus Aktif



Wahyu Wibisono
MUSI RAWAS, Jurnal Rakyat: Menjelang tahun ajaran baru sekolah, Satuan Tugas Wajib Belajar (Satgas Wajar) di Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan harus kembali aktif bekerja. Karena ini termasuk salah satu upaya pemerintah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan meningkatkan kualitas usia rata-rata sekolah.
Demikian dikatakan Camat Tuah Negeri, Wahyu Wibisono, saat dibincangi Jurnal Rakyat di ruang kerjanya, Senin (25/6/2012).
Untuk itu, guna mengantisipasi kecolongan terhadap usia sekolah yang tidak sekolah, dalam menghadapi tahun ajaran baru nanti, Satgas Wajar mulai saat ini harus kembali intens dalam memperhatikan masalah pendidikan di wilayah itu.
Menurut Wahyu, peran aktif  Satgas Wajar tersebut sangat berpengaruh dalam menekan angka putus sekolah masyarakat, terlebih lagi Kabupaten Mura yang memiliki sumber daya alam melimpah akan menjadi salah satu daerah tujuan investor baik lokal, regional, maupun internasional.
Dalam membangun bidang pendidikan di Mura maka pemerintah akan terus berupaya agar masyarakat usia sekolah dapat sekolah,jelasnya.
Dilanjutkannya, kewajiban untuk pembangunan pendidikan adalah tanggung jawab bersama sesuai dengan wilayah kerja dan tinggalnya.
“Dengan pergantian tahun ajaran baru nanti,  saya minta kepada kades agar langsung mengaktifkan satgas wajar di wilayahnya masing-masing,tegasnya.
Dengan demikian, tambahnya dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing, tidak ada lagi kabar adanya masyarakat yang putus sekolah karena berbagai alasan.
Melalui Satgas Wajar, kita harus konsisten membangun pendidikan, untuk itu usia sekolah harus tetap sekolah,”pungkasnya.(Biroe)

Selasa, 12 Juni 2012

Warga KAT Sungai Jernih Sudah Nikmati Wajib Belajar

MUSI RAWAS, Jurnal Rakyat: Warga Komunitas Adat Tertinggal (KAT), Sungai Kijang, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas, saat ini sudah berbaur dengan masyarakat umum, bahkan sudah menikmati wajib belajar yang telah diprogramkan pemerintah.

Pantauan Jurnal Rakyat, Senin (11/6) anak-anak bangsa dari warga KAT Sungai Kijang yang  sudah bersekolah telah mencapai ratusan anak.. Mereka bersekolah di SD Negeri Sungai Kijang, Kecamatan Rawas Ulu.

“Di Kecamatan Rawas Ulu ini, SDN Sungai Kijang merupakan satu-satunya SD yang memiliki yang muridanya ada dari warga KAT. Jadi saat ini warga KAT sudah menikmati program wajib belajar dalam arti kata mereka sudah bersekolah,“kata Kepala SDN Sungai Kijang, Surani A.Ma, Pd, saat dibincangi Jurnal Rakyat, kemarin.

Dikatakannya, saat ini warga KAT Sungai Kijang yang bersekolah di SDN Sungai Kijang telah mencapai 163 siswa dan mulai dari jenjang kelas I (satu) hingga kelas VI (Enam).

“Namun saat ini SDN Sungai Kijang masih kekurangan tenaga pengajar dan belum ada gedung UKS dan juga belum lengkapnya bantuan perpustakaan dan alat peraga lainnya,”katanya.

Oleh sebab itu, tambahnya, menginggat dalam mendidik dan memberi pelajaran kepada siswa-siswi dari KAT sangat berbeda dibandingkan dengan asli pribumi.

“Kita berharap pemerintah dapat menambahkan tenaga pengajar dan fasilitas-fasilitas lainnya di sekolah ini karena mereka perlu lebih mengenal alat-alat peraga yang ada di sekolah,”harapnya. (Biroe)

Rabu, 04 April 2012

3.885 Siswa SMA Siap Laksanakan UN



LUBUKLINGGAU, Jurnal Rakyat: Ditahun ajaran 2011/2012 ini, sebanyak 3.885 Siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan siap menghadapi Ujian Nasional (UN).

Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) pada Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau, Mustofa Yusuf, Rabu (4/4/2012) mengatakan saat ini berdasarkan data yang ada di Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau sebanyak 3.885 siswa SMA/MA/SMK/Sederajat akan mengikuti UN tahun 2012.

"Rinciannya, sebanyak 3.017 siswa SMA/MA Negeri dan swasta serta 868 siswa SMK negeri dan swasta,"katanya.

Menurutnya, untuk jumlah ruangan UN sebanyak 224 ruangan yang ada di SMA/MA dan SMK serta sebanyak 448 orang pengawas UN yang akan mengawasi pelaksanaan UN di SMA/MA dan SMK di Kota Lubuklinggau.

"Pengawas UN ini sendiri merupakan guru-guru SMA, MA dan SMK yang ada di Lubuklinggau dengan sistem silang. Masing-masing ruang UN akan diawasi oleh dua orang pengawas,"jelasnya.

Setiap ruangang UN, kata dia akan ditempatkan murid sebanyak 20 peserta UN dan jumlah peserta UN, ditahun 2012 ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Untuk itu diharapkan kepada sekolah yang telah melaksanakan ujian sekolah beberapa hari yang lalu agar tetap fokus dan terus melaksanakan jam pelajaran tambahan sertatry out dengan membahas kisi-kisi soal UN,"harapnya.

Dengan demikian, katanya siswa-siswi peserta UN akan benar-benar siapdan tetap konsentrasi sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Untuk diketahui, pelaksanaan UN tingkat SMA berdasarkan kalender pendidikan akan dilaksanakan pada 16 April 2012. (Rian)

Usulkan Pramuka Masuk Kurikulum Sekolah



PALEMBANG, Jurnal Rakyat: Agar dapat membentuk kepribadian yang baik dan dapat membebaskan anak muda dari jeratan narkoba, maka diperlukan pengoptimalan kegiatan-kegiatan yang berada di sekolah seperti pramuka.

Ketua Kwarda Sumsel H Abdul Shobur yang ditemui di sela-sela, pembekalan bagi andalam daerah kwarda Sumsel tahun 2012 di gedung serbaguna DPRD Sumsel, Rabu (4/4) menyatakan, kegiatan pramuka yang dikenal dengan kegiatan ekstrakuler selama ini diusulkan untuk menjadi bagian dari kurikulum sekolah.

"Pramuka dapat membentuk kepribadian yang baik dan juga harapannya, jiwa pramuka ini dapat masuk dan mendarah daging di kaum muda khususnya yang berusia 7-26 tahun,"katanya.

Menurut Shobur, sudah saatnya memasukan kegiatan pramuka ke dalam kurikulum sekolah saat ini. Dalam artian, jika disetujui pelajaran pramuka akan diajarkan di kelas

Ditambahkan Shobur, dengan telah diterbitkannya UU No 12 tahun 2010 terkait kepramukaan, diharapkan usulan untuk menjadikan kegiatan pramuka masuk kedalam kurikulum pelajaran dari tingkat SD hingga perguruan tinggi dapat disetujui.

"Kita akan bahas usulan ini, pada rakernas dan musyawarah luar biasa yang digelar akhir April ini di Jakarta. Usulan ini akan kita sampaikan pada acara itu. Dan apabila disetujui akan kita sampaikan ke pemerintah untuk disahkan," kata Shobur. (Sripoku)